Selasa, 26 Maret 2013

Qobil dan Habil

Oleh: Wahyu Syahputra



Siang itu Qobil membawa parangnya, dengan langkah cepat pemuda itu menghampiri gudang tempat Habil mengurus kambingnya. Seperti biasa, Habil sedang memeras susu kambing untuk disajikan ke keluarganya. Keluarga Habil sangat menyukai susu kambing. Ayahnya Adam yang sudah pikun terus mengatakan ‘’Susu kambing, Susu kambing’’ ketika bangun dari tidur.

Wajah Qobil tirus, baru saja dia kalah tarung dengan Habil mengenai pemberian upeti. Upeti tersebut sebagai lomba mendapatkan wanita tercantik Iqlima.

‘’Mampus kau Habil, Mati nanti kau kubikin,’’ Ujar Qobil dalam hati.


Qobil tidak habis pikir, mengapa dirinya selalu didiskreditkan oleh keluarganya. Ayahnya bilang, dia seorang pemarah, tidak bisa mengontrol keinginan yang harus didapat, ambisius, gairah hidup terlalu tinggi, semangat yang berlebihan, dan selalu berpolitik terhadap sesusatu.

Sementara Habil, dia seorang yang pemalu, rendah hati, tidak sombong, plus tidak punya gairah hidup dan tidak memiliki sikap revolusioner sama sekali. Qobil murung, tertuduk ketika berjalan. Air matanya menetes, bukan karena tangisan, tapi karena begitu bangganya Qobil terhadap dirinya sendiri.

‘’Aku punya semangat membara, Aku orang pertama yang punya itu, Aku bisa hidup seribu bahkan sejuta tahun lagi,’’ kata Qobil sambil terus berjalan.

Parang itu masih dipegangnya erat. Dalam pikiran Qobil, orang seperti Habil harus dimusnahkan, Habil selalu berlindung dibawah ketiak ayahnya. Habil tidak berani mengambil keputusan, dan selalu mengikuti alur.

Bagaimana dunia ini bisa berubah jika orang hanya mengikuti alur. Dunia akan mandeg karena tidak ada perubahan sama sekali. Perubahan itu dari semangat melawan, melalui politik ditambah dengan gairah hidup yang menggebu-gebu. 

Sungguh Qobil tidak mengerti jalan pikiran ayahnya dan ibunya. Qobil selalu dinasehati untuk mengalah, sebagai kakak harus bijaksana. Lantas, Qobil menanyakan, apa itu kebijaksanaan? Apakah mengalah suatu kebijaksanaan? Kenapa orang cinta dengan kebijaksanaan?. ‘’Lemah!’’ Kata Qobil

Qobil makin mempercepat jalannya. Dia melewati hamparan padang rumput dengan bermacam jenis tumbuhan. Tapi tidak ada pohon untuk berteduh. Qobil merasa dirinya tidak perlu pohon untuk berlindung.

‘’Aku hanya butuh berjalan, terus berjalan,’’ Kata Qobil

Mata nanar Qobil memandag lurus sejauh titik ujung tempat kandang ternak Habil yang dirasa tidak pernah sampai. Qobil makin memercepat jalannya. Kini parangnya belum dilumuri darah, tapi keringat dari tangan Qobil.

Lihat padang rumput ini, siapa yang berani melewatinya siang hari. Ayahnya yang seorang terhormat dan kepribadian teguh pun tidak berani. Habil? Apalagi Habil. Dia hanya bisa memeras tetek kambing dan takut untuk lepas dari pingitan orang tua. Begitulah Habil layaknya

‘’Habil cuma punya kebaikan yang dungu,’’ Kata Qobil

Titik kandang ternak Habil semakin menjadi sebuah bentuk. Tapi belum jelas. Qobil teringat dengan pertarungannya dengan Habil untuk mendapatkan Iqlima yang cantik jelita. O iya, Iqlima, Iqlima yang cantik. Laki-laki mana yang tidak tertarik dengannya. Tubuh langsing, mata bulat dan besar berwarna kebiruan, ditambah kulit yang putih dan halus, membuat Iqlima menjadi pujaan Qobil dan Habil.

Siapa yang bilang Habil tidak tertarik. Habil hanya tidak jujur pada dirinya sendiri, dia malu mengatakan keinginannya, dia bukan pria yang punya keinginan untuk berjuang, dia hanya lelaki dungu yang selalu mengikuti arahan. Buntu ide.

Qobil hanya merasa yang dipunya adiknya Habil hanya keramahan dan kepasrahan plus kejujuran. Mau ramah, pasrah dan jujur di dunia ini. ‘’Mampus lah kau,’’ Kata Qobil
Politik, Qobil menggunakan politik ketika ingin merebut Iqlima kepelukannya. Ketika itu ayahnya menyuruh untuk bertanding menyerahkan upeti ke atas gunung. Nanti di sana, akan terpilih salah satu upeti dengan tanda tersambar petir. Maka, dialah yang juara.

Habil memberikan kambing, Qobil memberikan Gandum, mereka berdua menaruh upeti tersebut di atas gunung tertinggi. Setelah beberapa lama, Qobil dan Habil yang ditemani ayahnya naik lagi ke gunung. Luka!, ternyata upeti dari Habil yang diterima.
Lebih sakit hati lagi, ayahnya beralasan upetinya buruk dan busuk makanya tidak diterima. Padahal tidak, itu salah besar. Qobil merasa memberi upeti yang terbaik. Qobil curiga dengan permainan ini.

‘’Apakah ada yang salah dengan kecurigaan?,’’ kata Qobil.

Ini faktor kenapa Habil harus dibunuh. Qobil tidak terima ayahnya melarang untuk curiga. Ayahnya bilang curiga itu sifat yang buruk, yang bisa menggiring manusia pada kejahatan. Qobil marah!, dia menarik jenggot ayahnya.

‘’Ayah!, kalau aku tidak curiga, aku akan terbunuh sebelum aku menyelamatkan diri, dan aku tidak akan tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kebenaran tidak bisa terbuka sendiri, harus dibuka!,’’ kata Qobil

Ketika Qobil melepaskan jenggot ayahnya, ayahnya bilang. ‘’Tirulah Habil yang penurut, dan tidak banyak cincong seperti kamu, orang penurut akan selamat,’’Kata ayah Qobil

Badan Qobil bergetar mengingat perkataan ayahnya. Dia tidak bisa terima, dia harus membunuh Habil, agar dunia ini terbebas dari orang-orang yang lemah, dan selalu berlidung dibelakan orang lain.

Bukankan para pemimpin akan membunuh orang yang tidak berguna. Mereka yang tidak perlu hidup karena tidak bisa melakukan perubahan dan tidak satu ide. Pemimpin adalah seorang yang revolusioner, yang ingin perubahan, mana cocok dengan orang yang lemah sendu, yang takut terhadap perubahan.

Pembunuhan ini diharuskan. Habil mungkin sudah merasa akan dibunuh, dan tidak mungkin menghindar, karena sifatnya yang pasrah dan menyerahkan semua kepada orang lain. ‘’Dungu’’ Kata Qobil.

Kandang ternak itu semakin berbentuk. Qobil melihat kandang itu sepi, seperti tidak ada kehidupan. Qobil teringat begitulah sifat Habil yang ingin kenyamanan dan kesunyian. Habil selalu kabur jika ada huru hara.

Jarak kandang itu tidak sampai 500 meter lagi. Qobil berpikir, ini bukan sekedar Iqlima yang cantik. Tapi ada kewajiban lain yang harus di jalankan, memberantas orang-orang yang tidak punya semangat dan anti perubahan.
Saat jarak semakin dekat, Qobil mulai memegang erat parangnya. Parang itu memang sudah keluar dari sarungnya ketika Qobil menginjakkan kaki di alang alang padang rumput.

Sekarang tinggal beberapa meter saja Qobil dengan kandang ternak Habil. Qobil memercepat langkah kakiknya. Akhirnya sampai di depan pintu kandang ternak Habil. Qobil diam sejenak tidak langsung mengetuk pintu kandang ternak. Qobil pasang ancang-ancang. Membuka pintu pelan-pelan. Dari dalam sudah terdengar suara kambing mengembik.

‘’Kraaakkkk,’’

Qobil memelankan langkahnya. Celingak celinguk melihat di mana Habil berdiam. Sambil mengelap keringat di dahinya Qobil memasang ancang-ancang untuk membacok dengan segera.

‘’Jlebbbbb,’’ pisau telah masuk di antara selah daging

Mata Habil mendelik seperti menahan sakratul maut. Qobil tersenyum bangga, dengan semangatnya yang membara, di raihnya tangan Habil. Habil lantas memegang erat tangan Qobil. Darah muncrat ke tanah. Pembunuhan pertama terjadi.

Habil memeluk Qobil dari belakang menahan Qobil yang hampir terjatuh.
‘’Kak, orang yang melawan arus tidak bisa hidup lama, perubahan butuh tumbal, aku bangga denganmu,’’ kata Habil

Qobil terjatuh berlumuran darah di punggungnya. Pisau sepanjang tiga 10 centimeter mengenai hatinya. Hatinya pecah. Qobil tidak bisa bernafas.

‘’Grookkkhhhhhh,’’ Nafas terkahir Qobil di dengar Habil yang mendekatkan kupingnya ke mulut Qobil

Qobil tidak bilang sepatah katapun, hanya terlihat dari raut wajahnya semangat yang membara. Air mata Habil jatuh ke tanah. ‘’Selamat jalan revolusioner, seribu tahun lagi orang-orang hanya menganggapmu pembangkang,’’ Kata Habil sambil meninggalkan Qobil yang tergelak bersimbah darah

SEMANGGI, 26 Maret 2013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar